Rabu, 15 November 2017

Semu

Aku berada disini lagi.

Sebenarnya aku memang selalu akan ke sini pada hari ketigaku. Aku selalu menyempatkan diriku untuk kemari, dengan ataupun tanpanya, meskipun seringnya yang terjadi adalah tanpanya. Aku mengamati gelas teh dingin yang belum kusentuh sejak tadi. Rokokku sudah terbakar memasuki jumlah ke empat. Aku duduk menghadap ruang kosong, berandai andai apabila dia ada disini saat ini. Berandai andai jika dia duduk di depanku. Apa yang akan kulakukan? Mungkin aku bisa berbincang tanpa lelah dengannya, seperti yang dulu selalu kami lakukan. Mungkin saja aku bisa menggenggam tangannya, menyerukan semangat untuk segala kepelikan yang dihadapinya, tanpa aku pernah benar-benar bisa bertanya mengapa. Atau mungkin juga aku bisa menciumnya, menggantikan waktu-waktu dimana raga tidak bisa menemaninya berjuang dalam kegusaran yang selalu dialaminya. Terlalu banyak hal yang mungkin, tetapi kenyataan tidak pernah memberi kesempatan untuk benar-benar mencari tahu. Lalu aku akan kembali berandai-andai.

Bagaimana jika ia berada disini sekarang?

Begitulah. Lagipula, dengan cara apa dia bisa tahu bahwa sekarang aku berada disini, bukan?

Aku menjejaskan sisa rokokku, meneguk segelas teh yang dinginnya sudah tawar, lalu meletikkan sebatang lagi. Rokok kelimaku. Biasanya aku tidak merokok sebanyak ini dalam satu kesempatan. Tidak jika dia bersamaku. Tapi kali ini, dan akan banyak kali lainnya, dia tidak akan bersamaku. Lantas apakah arti jumlah angka yang masih bisa kusadari?

Aku kembali berandai andai. Sambil menggumamkan satu lagu yang cukup kuingat yang sedang bergema di tempat ini. Jika dia disini, dia akan menggelengkan kepalanya dibarengi dengan decak tanda bosan. Selera lagumu selalu aneh. Kira-kira begitulah kata kata yang selalu terlontar. Ya, selera laguku memang aneh, lagu yang diputar ditempat ini selalu aneh. Tempat inipun terasa semakin aneh. Atau hanya aku saja yang semakin lama menjelma menjadi sosok yang semakin aneh. Tapi dia selalu memaklumi. Setidaknya, dulu begitu. Sampai dia menemukan sosok lain yang membuatnya berpikir bahwa hidup ini akan lebih membahagiakan jika dilewatkan lagi bersama seseorang yang membuatnya tidak perlu ikut merasa aneh.

Lalu apakah aku punya pilihan?

Apakah aku harus menyeretnya duduk kembali dan mendengarkan kata-kata aneh dari hadapannya?

Atau apakah aku bisa memeluknya dan mengatakan bahwa kami akan menemukan cara apapun untuk mengatasi keanehan ini?

Bagaimana?

Bukankah sudah kubilang aku tidak punya pilihan?

Yasudah. Aku akan kembali berandai-andai.

Rokokku memasuki angka kedelapan. Setidaknya, itulah jumlah yang kuingat. Aku membiarkan minuman yang semakin lama semakin memudar warnanya dihadapanku, tanpa menyentuhnya. Dan dengan ditandaskannya sisa abu kedelapanku, aku membayar lunas semua rasa rindu dan kenanganku padanya di tempat ini.

Somewhere only we (literally) know, 2017.

Rabu, 25 Januari 2017

Why

“I feel like this is when I should tell you how much I miss you, but a part of me knows you probably don’t care. If you did, we’d probably still be friends…right? But I still hope you think of me on occasion and miss me too.

It’s been months since we last talked who would’ve seen that coming? I know I definitely didn’t. So much has happened since we last spoke, and I’ve wanted you to know it all. Isn’t that twisted? Even though we’re no longer friends, I still want to tell you all the things I used to. And it sucks because you’re not that person to me anymore.

You were the one person I was supposed to be able to count on for anything. You used to be a phone call away but suddenly you stopped answering. You were supposed to always look out for me but then you forgot . We were supposed to be friends forever but the next thing I knew, we were growing further and further apart

But I guess that’s life. Nothing is constant and no one owes you anything. And even though we’re not friends anymore, I still want to thank you. Thank you for being my best friend and dealing with everything that comes with that. Thank you for the nights we stayed up til dawn just talking and laughing. Thank you for being honest and genuinely caring about me. Thank you for taking me for me, and never letting other’s judgments get in the way. Thanks for never sharing those embarrassing pictures you took of me. And thank you, thank you, thank you for being the best friend I needed during that part of my life.
And even though we are no longer friends, I just want you to know that I could never hate you. Trust me, I’ve tried. It sounds awful, but I thought it would be easier to get over losing you if I could hate you but I couldn’t bring myself to do it. I was hurt when you left, but I will never hate you. You were my best friend. And despite how things ended up, because of that, I will always love you.

Sometimes, I still scroll through pictures of us and smile. I see screenshots of old conversations and laugh. And whenever I see something that reminds me of you or an inside joke, I almost always almost send it to you. I don’t think there will ever be a day when you don’t cross my mind at least once, but the sadness and hurt are fading, and I’m learning to look at you as a cherished memory.

Everyone chooses their paths in life, and I guess your path just no longer intertwined with mine. But I hope you’re happy. Because I really do wish you the best. I hope you’ve found someone new to send all those weird memes too, to stay up on the phone with on the nights you just can’t sleep, to binge watch Friends with, and to equally complain and celebrate about all the things with
Just know that I don’t hate you and that I’ll always love you. Know that I cherish the memories we made and wouldn’t trade them for anything. I’ll always check your snaps and Facebook posts to make sure you’re doing okay, because some things will never change. And know that even if I don’t go up to you the next time I see you, I will always be grateful to have called you my best friend.

Sincerely, Me."

I dont know why something hits me so hard whenever I read this post.
Hardcorely listen to Andrew Belle's In My Veins...ahh..so many people, so many memories, so little time...

Junk,

Rabu, 21 Desember 2016

Sadar (?)

Aku baru sadar, aku belum pernah sekalipun mendengarmu berucap maaf ; Aku belum pernah melihatmu menyesal.
Aku belum pernah merasakan kamu yang berusaha menenangkan konflik, alih-alih kamu membebaninya dengan menegaskan siapa yang benar dan siapa yang salah ; alih-alih,kamu memberikan kriteria kepada beberapa orang dan bersabda bahwa kamu lebih baik daripada mereka. Lebih benar.
Benarkah?
Hanya selalu salahkukah?
Menjadi salahkukah? Atau aku tidak sebegitu pentingnya sehingga kau tidak perlu berepot-repot merasa menyesal, merasa mengerti?
Apa yang kamu mengerti?
Yang kamu tahu, kamu terluka hebat, dan harus membalaskan beban hatimu. Tidak peduli jika itu mengakibatkan beberapa oranglainnya merasa kesakitan.
Yang kamu tidak tahu, kamu tidak tahu apa-apa. Kamu bahkan tidak pernah memiliki niatan untuk mencari tahu apa-apa, bukan?
Aku bukan santa, apa yang kamu harapkan?
Kamupun bukan santa, tapi mengapa selalu bersikap tak punya dosa?

Aku hanya berpikir, teman-temanku, entah mereka titisan syaitan ataupun justru titipan ilahi; kata-kata mereka menjadi terasa semakin masuk akal untuk kuterima. Mereka semakin terdengar benar.

Junk,