Sabtu, 08 Desember 2018

Day #10 tahun baru

Malam tahun baru tidak pernah mrnjadi momen faforitnya. Menurutnya, malam tahun baru selalu identik dengan keramaian. Kerumunan. Kericuhan. Ia benci berada dalam ketiga hal tersebut terlebih apabila ia melewatkannya sendirian.

31 Desember 2016, pukul sebelas malam lewat empat puluh delapan menit. Ditulis di teras samping, ditemani suara orang-orang yang merayakan keramaian.

Day #9, notifikasi

Setiap kali ponselku bergetar menandakan notifikasi chat masuk, tak peduli apa yang sedang ia kerjakan ia pasti selalu dengan penuh semangat mengeceknya, untuk kemudian merasa kecewa karena isi pesan itu bukan dari seseorang yang benar benar diinginkannya. Menyedihkan memang, masih mengharapkan datangnya pesan singkat dari seseorang yang sudah jelas jelas tidak lagi menganggapnya ada dalam kehidupannya .

Kopi Nalar, 20.27

Day #8, kembali

Besok kau akan pulang ke jakarta, kan?
Ia terhenyak. Bukan karena pertanyaannya, namun karena nyatanya ia butuh lebih banyak waktu dari biasanya untuk bisa menjawabnya. Dulu jika pertanyaan semacam itu ditujukan padanya, ia akan menjawabnya dengan cepat dan penuh kepastian, tak lupa dengan tambahan rasa semangat dan senyum di wajahnya. Namun kini? Ia mendesah lagi. Entahlah kini.

Alex & sierra - little do you know

2018.

Day #7, pulang

Pulang kadang bukan cuma ke tempat dimana kita harus kembali. Kadang pulang bisa juga bertemu kembali. Dan mau sejauh apa gue kemana-mana atau dengan siapa, pulangnya ke orang itu juga. Lagi.
Mungkin, makna 'pulang' harus gue maknai mulai dari situ.

Soekarno-hatta, 2017

Day #6 ramai

Saya suka duduk mengamati ricuh jalanan. Keramaian berlalu lalang. Karena siapa tahu, ada sosokmu dalam salah satu keramaian itu.

Selatan ibukota, 2016

Senin, 03 Desember 2018

Day #5, kembali

Kebahagiaan karena telah kembali ke tempat ini sebesar rasa sedihnya.

Rasa ini sudah tidak wajar. Ia mendesah menikmati debur sakit dalam rongga dadanya. Kalau tuhan memang ada, dia seharusnya bisa menjelaskan mengapa rasanya sampai sesakit ini.

Sudah setahun berlalu, ia kembali memasuki kamar ini lagi. Dia berdiri di ambang pintu dan mengamati kamar ini. Sudah setahun berlalu, kamar ini masih menyimpan bau yang selalu ia rindukan dan ingat setiap malam.

Januari 2017, sudut ibukota.

Minggu, 02 Desember 2018

Day #4, peduliku

Sesekali, aku ingin tahu rasanya mengabaikan, ingin tahu rasanya tidak harus menjawab. Sebelumnya, aku selalu ada, akan selalu mudah untuk dijangkau. Karena kau tahu apa? Aku tahu bagaimana sakitnya terabaikan. Aku tahu bagaimana sakitnya menunggu jawaban yang semakin lama semakin kamu pahami bahwa tidak akan kamu dapatkan.
Namun kini aku belajar, bahwa tidak semua keinginan bertemu dengan penyelesaian lugas. Tidak semua pertanyaan berujung dengan kepuasan jawaban. Tidak semua kosong dapat terobati dengan hadir.

Day #3, dekat

Untuk kamu, yang mengingatkanku pada tawa masa kecil, taman belakang rumah, dan bau hujan di sore hari. Aku rindu. Aneh rasanya, berada sedemikian dekat tapi tak bisa mampir. Ah..

Dari barat, 2017

Day #2, ramai

Saya suka duduk mengamati ricuh jalanan. Keramaian berlalu lalang. Karena siapa tahu, ada sosokmu dalam salah satu keramaian itu.

Kamis, 29 November 2018

Day #1, Atap

Kita sudah berada di bawah satu atap langit yang sama, ah tapi apa pentingnya itu buatmu kini. Apa pentingnya mengingat kenyataan mengenai seberapa dekat jarak kita berpijak saat ini ketika sudah ada orang lain yang menemani harimu dibawah satu atap langit kamar yang sama.

Rabu, 15 November 2017

Semu

Aku berada disini lagi.

Sebenarnya aku memang selalu akan ke sini pada hari ketigaku. Aku selalu menyempatkan diriku untuk kemari, dengan ataupun tanpanya, meskipun seringnya yang terjadi adalah tanpanya. Aku mengamati gelas teh dingin yang belum kusentuh sejak tadi. Rokokku sudah terbakar memasuki jumlah ke empat. Aku duduk menghadap ruang kosong, berandai andai apabila dia ada disini saat ini. Berandai andai jika dia duduk di depanku. Apa yang akan kulakukan? Mungkin aku bisa berbincang tanpa lelah dengannya, seperti yang dulu selalu kami lakukan. Mungkin saja aku bisa menggenggam tangannya, menyerukan semangat untuk segala kepelikan yang dihadapinya, tanpa aku pernah benar-benar bisa bertanya mengapa. Atau mungkin juga aku bisa menciumnya, menggantikan waktu-waktu dimana raga tidak bisa menemaninya berjuang dalam kegusaran yang selalu dialaminya. Terlalu banyak hal yang mungkin, tetapi kenyataan tidak pernah memberi kesempatan untuk benar-benar mencari tahu. Lalu aku akan kembali berandai-andai.

Bagaimana jika ia berada disini sekarang?

Begitulah. Lagipula, dengan cara apa dia bisa tahu bahwa sekarang aku berada disini, bukan?

Aku menjejaskan sisa rokokku, meneguk segelas teh yang dinginnya sudah tawar, lalu meletikkan sebatang lagi. Rokok kelimaku. Biasanya aku tidak merokok sebanyak ini dalam satu kesempatan. Tidak jika dia bersamaku. Tapi kali ini, dan akan banyak kali lainnya, dia tidak akan bersamaku. Lantas apakah arti jumlah angka yang masih bisa kusadari?

Aku kembali berandai andai. Sambil menggumamkan satu lagu yang cukup kuingat yang sedang bergema di tempat ini. Jika dia disini, dia akan menggelengkan kepalanya dibarengi dengan decak tanda bosan. Selera lagumu selalu aneh. Kira-kira begitulah kata kata yang selalu terlontar. Ya, selera laguku memang aneh, lagu yang diputar ditempat ini selalu aneh. Tempat inipun terasa semakin aneh. Atau hanya aku saja yang semakin lama menjelma menjadi sosok yang semakin aneh. Tapi dia selalu memaklumi. Setidaknya, dulu begitu. Sampai dia menemukan sosok lain yang membuatnya berpikir bahwa hidup ini akan lebih membahagiakan jika dilewatkan lagi bersama seseorang yang membuatnya tidak perlu ikut merasa aneh.

Lalu apakah aku punya pilihan?

Apakah aku harus menyeretnya duduk kembali dan mendengarkan kata-kata aneh dari hadapannya?

Atau apakah aku bisa memeluknya dan mengatakan bahwa kami akan menemukan cara apapun untuk mengatasi keanehan ini?

Bagaimana?

Bukankah sudah kubilang aku tidak punya pilihan?

Yasudah. Aku akan kembali berandai-andai.

Rokokku memasuki angka kedelapan. Setidaknya, itulah jumlah yang kuingat. Aku membiarkan minuman yang semakin lama semakin memudar warnanya dihadapanku, tanpa menyentuhnya. Dan dengan ditandaskannya sisa abu kedelapanku, aku membayar lunas semua rasa rindu dan kenanganku padanya di tempat ini.

Somewhere only we (literally) know, 2017.

Rabu, 25 Januari 2017

Why

“I feel like this is when I should tell you how much I miss you, but a part of me knows you probably don’t care. If you did, we’d probably still be friends…right? But I still hope you think of me on occasion and miss me too.

It’s been months since we last talked who would’ve seen that coming? I know I definitely didn’t. So much has happened since we last spoke, and I’ve wanted you to know it all. Isn’t that twisted? Even though we’re no longer friends, I still want to tell you all the things I used to. And it sucks because you’re not that person to me anymore.

You were the one person I was supposed to be able to count on for anything. You used to be a phone call away but suddenly you stopped answering. You were supposed to always look out for me but then you forgot . We were supposed to be friends forever but the next thing I knew, we were growing further and further apart

But I guess that’s life. Nothing is constant and no one owes you anything. And even though we’re not friends anymore, I still want to thank you. Thank you for being my best friend and dealing with everything that comes with that. Thank you for the nights we stayed up til dawn just talking and laughing. Thank you for being honest and genuinely caring about me. Thank you for taking me for me, and never letting other’s judgments get in the way. Thanks for never sharing those embarrassing pictures you took of me. And thank you, thank you, thank you for being the best friend I needed during that part of my life.
And even though we are no longer friends, I just want you to know that I could never hate you. Trust me, I’ve tried. It sounds awful, but I thought it would be easier to get over losing you if I could hate you but I couldn’t bring myself to do it. I was hurt when you left, but I will never hate you. You were my best friend. And despite how things ended up, because of that, I will always love you.

Sometimes, I still scroll through pictures of us and smile. I see screenshots of old conversations and laugh. And whenever I see something that reminds me of you or an inside joke, I almost always almost send it to you. I don’t think there will ever be a day when you don’t cross my mind at least once, but the sadness and hurt are fading, and I’m learning to look at you as a cherished memory.

Everyone chooses their paths in life, and I guess your path just no longer intertwined with mine. But I hope you’re happy. Because I really do wish you the best. I hope you’ve found someone new to send all those weird memes too, to stay up on the phone with on the nights you just can’t sleep, to binge watch Friends with, and to equally complain and celebrate about all the things with
Just know that I don’t hate you and that I’ll always love you. Know that I cherish the memories we made and wouldn’t trade them for anything. I’ll always check your snaps and Facebook posts to make sure you’re doing okay, because some things will never change. And know that even if I don’t go up to you the next time I see you, I will always be grateful to have called you my best friend.

Sincerely, Me."

I dont know why something hits me so hard whenever I read this post.
Hardcorely listen to Andrew Belle's In My Veins...ahh..so many people, so many memories, so little time...

Junk,

Rabu, 21 Desember 2016

Sadar (?)

Aku baru sadar, aku belum pernah sekalipun mendengarmu berucap maaf ; Aku belum pernah melihatmu menyesal.
Aku belum pernah merasakan kamu yang berusaha menenangkan konflik, alih-alih kamu membebaninya dengan menegaskan siapa yang benar dan siapa yang salah ; alih-alih,kamu memberikan kriteria kepada beberapa orang dan bersabda bahwa kamu lebih baik daripada mereka. Lebih benar.
Benarkah?
Hanya selalu salahkukah?
Menjadi salahkukah? Atau aku tidak sebegitu pentingnya sehingga kau tidak perlu berepot-repot merasa menyesal, merasa mengerti?
Apa yang kamu mengerti?
Yang kamu tahu, kamu terluka hebat, dan harus membalaskan beban hatimu. Tidak peduli jika itu mengakibatkan beberapa oranglainnya merasa kesakitan.
Yang kamu tidak tahu, kamu tidak tahu apa-apa. Kamu bahkan tidak pernah memiliki niatan untuk mencari tahu apa-apa, bukan?
Aku bukan santa, apa yang kamu harapkan?
Kamupun bukan santa, tapi mengapa selalu bersikap tak punya dosa?

Aku hanya berpikir, teman-temanku, entah mereka titisan syaitan ataupun justru titipan ilahi; kata-kata mereka menjadi terasa semakin masuk akal untuk kuterima. Mereka semakin terdengar benar.

Junk,

Minggu, 18 Desember 2016

Absurd dan insecure

Jadi malem ini, Bella ngechat gue. Harusnya biasa aja, tapi yang bikin jadi agak nggak biasa adalah ucapan yang dia kirimkan. Well. Bella, adalah Monic tipe kedua, istilahnya kaya gitu. Dia orang yang secuek gue dalam menghadapi apapun, kecuali hal-hal yang emang menurutnya perlu perhatian lebih. Ceritanya besok gue mau balik ke kota orang, bukan hal yang istimewa karena sudah menjadi rutinitas. Nah terus gue heran karena Bella tumben-tumbenannya bilang gini,

.

.

Well. Kalau lo mengenal Bella dengan cukup lama, lo akan tahu bahwa itu bukan kata-kata yang sering dia ucapkan.
Jujur gue serem sih. Bukannya serem apa gitu ya, tapi kata orang, kalo ada sesuatu yang terjadi diluar kebiasaan, biasanya ada 'sesuatu' (eh anjir gue serem sendiri). Jadinya yaa.....gue takut. Karena dia ga biasa-biasanya ngomong gitu dan mana besok gue naik pesawat ya kan.... (ketok-ketok kayu amit amit).

So ya. Absurd. Gtu aja.

P.s. abaikan chat terakhir. Itu kehaluan tingkat khayangan.

Junk,

Jumat, 16 Desember 2016

Terkadang,

Kadang kita bisa bener-bener ngerasain sesuatu hal kalau hal tersebut udah ga sama kita lagi. Seseorang, kenangan, barang-barang memorable. Apapun itu.
Pernah nggak lo ada di satu tempat, sama orang-orang baru di kehidupan lo, dan ga peduli seasyik atau seheboh mereka disitu, rasanya beda sama ketika lo disitu sama orang-orang yang menurut lo spesial di hidup lo.

vibesnya, beda.

Dan ditengah-tAengah suara tawa yang mereka teriakan dan tawa lo sendiri yang lo ciptakan, lo akhirnya diam dan tanpa sadar terpikirkan, "Kalo ada si xxx sama vvv disini, bakalan asyik kali ya,"
Dan itu cuma bakal ada di pikiran doang karena sampai kapanpun, itu besar kemungkinan nggak bakal bisa kejadian lagi.

So many great people. So many memories. So little times.

Well. Actually. Postingan ini datang dari curhatan kangen dari wanda tengah malam kemaren.

Have you ever felt like you miss some people so much you can't do anything about it except texting them? While texting feels nothing without presence?

Sigh.

junk.

Selasa, 06 Desember 2016

****



"...Feelings for someone that become reminiscent of the freedom felt when driving at midnight when the streets are cold and hauntingly lonely, the time when there's too much self-awareness for my liking."

the time whhen I love you the most.

I miss you damn much everything seems like so bitter and painful.

xxx,

Sabtu, 03 Desember 2016

#13

“
Darling,

My love is vicious for you.
I’ve broken many hearts, including my own, because I refuse to settle for anything less than the exact shade of your soul.

It will be a color I can’t quite name, but somehow I’ll recognize it, like déjà vu has always been the story of how I’d find you.

It will be the color of falling asleep during a thunderstorm and waking up to the smell of firewood and sea salt.

It will be the color of the first days of spring, with my windows rolled down and adventure on the breeze.
It will be the color of hugging the people I love and hearing their voices after being away from them a while.

It will be the color of the backs of my eyelids, the one I see every time I blink and every time I dream; the one I will see eternally when my body fails and my soul leaves this earth.

So if I must, I’ll break their hearts and I’ll break mine. I will search until I finally come across the lovely hues of you.

And then I’ll paint my life with the shades of you so that the rest of the world might understand why you’re my favorite color.
”

— Z.M. , Letter #7 to you, wherever you are.

Rabu, 23 November 2016

Nemu

Aku nemu artikel yang agak (banyak dikit) tae sih.
Tapi highlight deh buat nomor 23 dan 24, itu iya banget loh. Mumumumu ��

www.hipwee.com/hiburan/untungnya-punya-pacar-fotografer/

Minggu, 13 November 2016

(Mengapa aku suka) Hujan

Jauhkan aku dari rokokku, barang laknat tersebut membuatku lupa terhadap sekelilingku
Tapi anehnya, Jika aku disuruh memilih antara berbungkus-bungkus rokok atau kamu, aku lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama kamu, tanpa intervensi aroma tembakau tentunya. Benar, ini aneh. Setiap kali bersama kamu, aku jadi tak peduli; pada dimana aku, minuman apa yang kupesan, rokok merek apa yang kuhisap, aku jadi tak peduli--

"Jadi bagaimana?"
Sepotong tanya itu hadir membuyarkan monolog dalam kepalaku. Aku terkesiap. Dia memandangku dengan pandangan menuntut, mungkin juga geli karena aku sempat-sempatnya bengong tadi. Taruhan, pasti mukaku terlihat bloon sekali dihadapannya.

"Apanya yang bagaimana?"

"Ck. Ya itu tadi. Jadi bagaimana? Sampai tahap mana pencarianmu?" Dia menjelaskan dengan mimik muka menjelaskan satu ditambah satu sama dengan dua, terlihat sabar sekali.

Aku hanya ber-o saja. "Tidak gimana-gimana," jawabku sambil meneguk peppermint tea dingin yang esnya sudah mencair hingga rasanya hambar. "Lagian mau nyari sampai bagaimanapun, baliknya juga ke kamu kok." dia terhenyak dan menatapku dengan cepat. Alisnya bergerak naik tanda mencerna ucapanku, yang sungguh mati, aku bahkan tidak mencernanya terlebih dahulu sebelum mengucapkannya tadi. "Mm--maksudku, ya balik ke kamu. Ini lho, kita lagi nongkrong bareng kan?" jawabku seenak perutku. Alibi yang tidak bertanggung jawab, tapi toh dia menerimanya dengan anggukan puas juga.

"Hujan." Ujarnya singkat sambil menoleh ke jendela besar di sebelah  kiriku.

Aku mengikuti arah pembahasannya, entah apa yang ada dipikiran manusia dihadapanku ini tentang langit yang berubah kelabu diluar sana. Sejujurnya, aku bahkan tidak peduli kalau terjadi badai sekalipun, selama dia belum akan beranjak dari kursinya sekarang.
Lalu mendadak saja ia menatapku, tajam, disisipi dengan senyum yang--ampun, membuatku mempertanyakan kualifikasi pada bagian produksi perusahaan semesta. Ia nyengir. Tak tahan, akupun ikut nyengir, entah oleh sebab apa.

"Kamu belum mau pulang kan? Lagian masih hujan, nih. Disini aja dulu ya?"

Aku nyengir lagi. Kali ini dengan tulus ikhlas.

Peacock, 2014

Jumat, 21 Oktober 2016

Chakra

You know, all the things that happened to us in this universe are connected to each other. Day by day, I believe it.
I met some people. Ive gone this far, Ive met some helpful people. Something that I never really thought before. And it came in the way I never expected before.
It's good. Yeah, its good. You lose some, you get some. And im so grateful about it. Im still learning. To see. To understand. To cooperate with this universe. Something that probably, in the future, Ill call it 'destiny'.
Who knows?
But universe is indeed amazing. You probably dont believe in God, but if you are also dont believe in the power of Universe...then I dont know what you are anymore.
So yeah. There's nothing such so far so good. Like what my friend (that I just met a week ago!) said : "your body will heal, your mind will heal. What done is done; what will happen, will happen. Forgive yourself."

Forgive yourself, is a powerful thing. At first I think, when a relationship's off, forgetting is the hardest part. But apparently, forgiving those, especially yourself, is way harder. If you meet someone attract you that much, forgetting is not a big deal. But then deep down you keep recall what have you done wrong in your past, what you shouldve done, what you shouldnt have done. Those kind of things are poison. And some people, keep that poison within themselves. So im still learning.


Few days ago, I met this guy. A puerto rican guy. The way I met him is just so unexpected, the universe conspired. He is, a natural healer. He taught about balance, and so on. The third time I met him, he suggest--well, he insist me to do some healing. I have no idea before, and ofcourse I rejected it. I dont like being scanned, or touched especially by a stranger. But then he said, "you carry a lot of your past in your body, and it affects your mental , do you know that?Dont be so stubborn." 

And by that, I fully surrender myself. One thing for sure, no explaination but I trust this guy. So yeah. The rest is history.
And again, universe conspired. In an amazing way make us realize that we're just tiny tiny little human.
I'm glad having a chance for this kind of things. 


Im still learning tho.
Im still learning.

****
After the process, my friend told me about human's aura and chakra. And I got mine. The one that is bigger and stronger than the others,

well, thats a simple research i found after he told me.
I dont believe in many things. But surely I do believe in nature and universe conspiracy. So now, I finally understand that everything in this universe is connected to each other. Sometimes, it comes up in a form of what we called coincidence.  


So yeah :)


Im still learning.


Im still learning.


Im still learning.

-junk