Selasa, 18 Oktober 2016

"saya ingin kabur, sebentar saja. boleh tidak? saya tidak ingin dicari atau mencari. saya tidak ingin memprioritaskan apapun untuk sebentar saja. saya ingin orang-orang mendadak lupa akan saya dan berhenti menyeret-nyeret saya dalam urusan mereka. saya ingin dunia menjadi kedap suara jadi saya tidak perlu mendengar teriakan-teriakan kasar yang tidak selayaknya saya dengar. saya tidak ingin merasakan apapun yang menyebabkan saya harus bertanggung jawab pada sesuatu yang bahkan tidak saya perbuat. saya ingin sistem pengatur emosi dalam sudut otak saya dimatikan sebentar, supaya saya tidak perlu merasakan apa-apa, bahkan rasa senang sekalipun, kerena toh, rasa senang hanyalah pengantar rasa-rasa mengerikan yang akan timbul setelahnya. saya tidak ingin terlalu memedulikan perasaan orang lain, jika setan dalam diri saya harus hidup lebih kuat lagi, maka biarkanlah saya menjadi jahat untuk mereka. saya ingin bisa menyentuh siapapun dengan sepuasnya, peduli setan dengan perasaan oranglain yang harus saya jaga. saya tidak ingin memahami oranglain dan alasan mengapa mereka harus dipahami. saya tidak ingin bersusah payah membantu orang lain yang bahkan ingat kepada bantuan sayapun tidak. saya ingin merasa bahwa diri saya lebih penting daripada oranglain yang saya pentingkan. saya tidak ingin merasa bersalah pada sesuatu yang menurut mereka harus saya lakukan untuk mereka. saya ingin disebut 'brengsek' karena memang begitu adanya, dan bukannya karena apa yang saya tampakkan untuk mereka. jadi bagaimana, boleh tidak?"

kepada "tuhan"ku yang berkuasa dalam segala jagad maya, jika ia memang ada.

Senin, 17 Oktober 2016

Gue harus optimis untuk sebab apa coba, tolong jelaskan.

������

Jumat, 07 Oktober 2016

I swear,

Aneh rasanya. Ketika dua orang yang sudah lama tidak bertemu, kembali dipertemukan dengan kesempatan yang tidak pernah kami berdua duga akan pernah terjadi, menjadi obat dari segala kehilangan dan kemuraman yang ada akhir-akhir ini.
Semesta memang aneh.
Dari perbincangan yang santai, menuju malam yang mungkin tidak akan kami berdua dapatkan lagi dalam waktu dekat ini. Menikmati suara halus dan senyum manis itu. Menikmati tubuh yang dalam beberapa kesempatan tidak sengaja direkatkan kepadaku. Menikmati langit malam, yang seperti kamu keluhkan 'Kok nggak ada bintang ya padahal cerah', atau cukup puas menikmati asap rokok dan dua gelas teh hangat yang pintamu "nggak usah manis manis ya, Bu, soalnya aku udah manis,". Menikmati saat-saat menyanyikan lagu-lagu milik Sia di dalam mobilmu sepanjang perjalanan, dan menikmati sepenuh hati menemanimu memanjatkan doa, seperti yang kamu bilang, "Apa aja deh, semua agama kan nggak ada yang buruk juga.", meskipun bukan itu kepercayaan yang dianut dirumah dimana kamu tinggal.
Dua orang yang sudah lama tidak bertemu, kembali dipertemukan, melakukan aktifitas seakan jeda waktu itu tidak pernah ada sebelumnya.
Jika jatuh cinta adalah kata yang berbeban berat, maka biarkanlah.
Dan aku bersumpah, di waktu ini, saya kembali jatuh cinta, untuk kamu, pain maker yang namun sekaligus menjadi personal pain relief saya.

Gawat. Bagaimana dong?

GM Kerep, 03.20 tadi. Saat mengamati orang-orang bermuka tertekan dan penuh doa.
Aku kok jadi pengen lihat senyum itu terus-terusan. Dengan seseorang yang berarti, waktu berlalu bagai terbang, sayang, pagi datang terlalu cepat dan kewajiban menuntut untuk diharuskan.

-junk